
BAUBAU – Di Kelurahan Lakologou, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, hari itu bukan sekadar tentang perjamuan pernikahan. Ada getar rindu yang membalut setiap sudut acara. Reniati, yang akrab dipanggil Reni, dengan wajah berseri dan hati penuh syukur, hari ini menyelenggarakan perjamuan pernikahan anak kemenakannya. Kakak Reni baru saja menikahkan putra kesayangannya dengan gadis pujaan hati, buah impian yang dinanti-nantikan. Namun di balik gelaran syukuran itu, tersimpan misi istimewa: sebuah reuni kecil yang hangat. Reni, yang beberapa hari lalu pulang kampung ke Baubau dari Kota Makassar, selama ini berkarir di PT Bosowa Makassar, bahkan sempat menjadi bos besar di perusahaan milik keluarga dekat Yusuf Kalla itu, sengaja mengundang kawan-kawan lama alumni SMP 1 dan SMA 1 Kota Baubau untuk menghadiri perjamuan tersebut. Minimal untuk bersilaturahmi, mengenang persahabatan yang jarang terkumpul kecuali lewat chat WA selama ini, sehubungan Reni bekerja di Kota Makassar. Reni dan suami dengan gembira mengajak kawan lama berkumpul di acara perjamuan itu, menganggapnya saja sebagai reuni. "Anggap saja ini reuni," kata Reni dalam undangan WA-nya, menjadikan perjamuan itu bukan sekadar acara makan, melainkan panggung rindu.
Buah cempedak di luar pagar,
Ambil galah tolong jolokkan.
Dulu berpisah karena belajar,
Kini reuni di hari bahagia, sapa rindu pun tersampunkan.
Sontak, teman-teman bersahutan lewat japri bahwa mereka siap menghadiri undangan WA Reni, sekalian bersilaturahmi bagi yang sempat. Grup WA Smansa Baubau angkatan 1985 dan grup WA Sabangka Wolio yang mempersatukan kawan-kawan lama itu pun hidup kembali. Grup yang telah mengingatkan masa-masa lalu, membagi kenangan cerita tempo doeloe dalam suka dan duka sampai sekarang, grup yang telah memperkenalkan kawan-kawan lama yang telah terkubur sejak lebih 30 tahun lalu itu — berkat teknologi WA, waktu 30 tahun lalu seperti baru saja berlalu. Musdalifa, teman sekelas di IPA 2, langsung tancap gas. Dengan sigap ia memobilisasi kawan-kawan untuk membawa mobil dan menjemput kawan yang ingin dijemput agar turut ramai dalam perjamuan nanti, dan tentu untuk kebutuhan foto bersama agar nampak kompak selalu. "Kita harus ramai. Siapkan baju terbaik untuk foto bersama biar kompak!" seru Musdalifa penuh semangat. Dia menghubungi satu per satu teman lama, menyusun rute jemputan, memastikan tak ada yang terlewat.
Sementara itu, Yeyet, kawan Reni dari kelas lain, sangat senang atas ajakan Reni dalam perjamuan ini. Begitu membaca undangan di grup, matanya berbinar, lalu menitikkan air mata haru. Rindu yang selama ini terpendam tiba-tiba meletus. Yeyet yang biasa mengatur komunikasi di grup-grup WA merasa sangat kesepian kalau tidak ada yang mengajak dan menjemput. Belahan jiwanya telah pergi duluan, meninggalkan rumah yang dulu ramai kini sunyi. Yeyet yang bertubuh atletis dan berwajah baby face — membuatnya tampak jauh lebih muda dari usianya — meminta Sahirsan untuk dijemput, karena Yeyet tidak bisa membawa mobil meskipun memiliki mobil. Anaknya yang biasa antar sedang ada urusan lainnya. "Aku mau datang. Tolong jemput aku. Aku sangat rindu dengan Reni dan kalian semua," tulis Yeyet dalam pesan panjangnya. Ia berharap agar mereka semua tiba di lokasi bersamaan dengan kawan-kawan lainnya. Ia tidak ingin menjadi orang terakhir yang datang saat semua sudah tertawa bahagia. Sahirsan yang menerima pesan itu langsung tersentak. Tanpa berpikir panjang, ia membalas: "Siap, Yeyet. Aku akan jemput. Kita datang bersama. Kamu tidak sendiri." Yeyet menghela napas lega. Baby face-nya yang masih manis itu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam beberapa pekan, ia merasa ada yang dinanti.
Hari pelaksanaan tiba. Matahari pagi di Baubau bersinar hangat, seolah ikut bahagia menyambut pertemuan yang telah lama dinanti. Sahirsan mengendarai mobilnya menjemput Yeyet. Begitu pintu rumah terbuka, Yeyet berdiri di ambang pintu dengan pakaian terbaiknya, sederhana tapi elegan. Wajahnya berseri meskipun ada sedikit guratan kesepian yang berusaha ia sembunyikan. Di dalam mobil, Yeyet membuka ponselnya dan melihat grup WA. Ada foto-foto lama yang dikirim oleh teman-teman. Foto hitam putih masa SMA: rambut lebat, seragam putih abu-abu, senyum tanpa beban. Yeyet tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Tiga puluh tahun, Sahirsan. Tiga puluh tahun kita tidak pernah benar-benar kumpul seperti ini. Hanya chat. Hanya WA. Sekarang kita benar-benar bertatap muka," ujar Yeyet lirih. Mobil-mobil lain juga bergerak dari berbagai penjuru kota. Musdalifa dengan mobilnya menjemput tiga orang teman lainnya. Ada tawa dari dalam mobil itu. Lagu-lagu lama diputar. Mereka bernyanyi bersama, seolah masa muda kembali.
Di lokasi perjamuan, Reni dan suaminya sudah berdiri di pintu masuk dengan wajah berseri. Reni tak bisa diam. Setiap kali ada mobil yang mendekat, ia menengok, mencari-cari wajah-wajah yang dulu setiap hari ia lihat di bangku sekolah. Mobil pertama datang. Disusul mobil kedua, ketiga, keempat. Seperti kendaraan reuni yang terencana rapi, mereka tiba hampir bersamaan — termasuk mobil Sahirsan yang membawa Yeyet. Begitu kakinya menginjak tanah halaman perjamuan, Reni berlari kecil menghampiri. Mereka berpelukan lama, hangat, seolah tidak pernah ada jarak tiga puluh tahun di antara mereka. "Aku sangat rindu, Reni. Sangat," bisik Yeyet di bahu Reni. "Aku juga, Yeyet. Terima kasih sudah datang," jawab Reni sambil mengusap air mata yang mulai mengalir di sudut matanya. Di belakang mereka, Musdalifa, Sahirsan, Abau, dan teman-teman lain mulai berkumpul. Ada yang tertawa keras, ada yang diam sambil tersenyum, ada pula yang langsung memotret momen langka ini. Wajah-wajah yang mulai berkerut oleh waktu, tapi tetap memancarkan cahaya muda saat bertatap mata.
Dengan wajah berseri, Reni dan suaminya mengucapkan terima kasih atas kesediaan hadir kawan-kawan lama. Reni yang ceria masih menampakkan raut wajah seperti masa-masa SMA. Reni yang dulu suka menyanyikan lagu Desember Kelabu paling disukai oleh ibu guru kesenian, Ibu Halija. "Makanya Reni selalu mendapat angka tertinggi untuk kesenian di kelas karena dicintai guru kesenian," kenang Abau yang juga teman sekelas di IPA 2 SMAN 1 Baubau sambil tertawa. "Dulu nilai seni Reni selalu sembilan, kita yang lain cuma bisa puas dengan tujuh!" Semua tertawa. Yeyet ikut tertawa, dan untuk sesaat, rasa sepi yang selama ini menemaninya menghilang. Suasana perjamuan berubah menjadi haru dan riuh rendah. Pelukan, tawa, dan cerita tempo doeloe mengalir deras. Ada yang mengingat kenakalan masa lalu — membolos pelajaran olahraga, menyontek saat ujian fisika, diam-diam menonton film di bioskop Anda. Ada yang menangis kecil saat melihat foto lama yang ditunjukkan Reni. Ada pula yang hanya terdiam menikmati kebersamaan yang terasa begitu langka.
Yeyet duduk di samping Reni. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang suami, tentang anak, tentang pekerjaan, tentang kehilangan. Yeyet bercerita tentang belahan jiwanya yang telah pergi duluan. Reni mendengarkan dengan seksama, sesekali menggenggam tangan Yeyet. "Kamu kuat, Yeyet," kata Reni. "Tidak selalu," jawab Yeyet jujur. "Tapi hari ini, di sini, bersama kalian... aku merasa kuat lagi." Musdalifa datang membawa sepiring makanan dan segelas es teh manis. "Kalian berdua jangan cengeng terus. Ayo foto bareng! Sudah saya siapkan kameranya." Mereka pun berhamburan keluar. Berjejer rapi. Tertawa. Berteriak "kompak!" saat kamera menjepret. Yeyet berdiri di barisan tengah. Baby face-nya bersinar di bawah sinar matahari Baubau. Tubuh atletisnya masih tegap. Senyumnya lepas. Inilah saat yang ia tunggu-tunggu: tidak datang sendirian, tidak menjadi orang terakhir, tidak merasa dilupakan.
Pergi ke pasar membeli dahan,
Dahan dipotong dibuat pemikul.
Berkat WA yang mempersatukan kawan,
Yang hilang tiga puluh tahun, kini kembali tersenyum sambil bersimpuh.
Acara perjamuan usai sudah. Satu per satu kawan pamit pulang. Yeyet kembali naik ke mobil Sahirsan. Sebelum mobil bergerak, Yeyet menurunkan kaca jendela. "Reni," panggilnya. Reni yang sedang melambai dari teras berjalan mendekat. "Terima kasih sudah mengundangku. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa aku masih punya banyak saudara di dunia ini," kata Yeyet dengan suara bergetar. Reni menggenggam tangan Yeyet sekali lagi. "Kamu tidak pernah sendiri, Yeyet. Jangan pernah merasa sepi. Kita ada. Grup WA itu bukan sekadar grup. Itu rumah kita." Mobil Sahirsan perlahan menjauh. Reni masih berdiri di teras pintu perjamuan, melambai, sampai mobil itu hilang di tikungan. Siang itu, di Kota Baubau yang tenang, Reni dan Yeyet sama-sama belajar satu hal: kebersamaan sejati tak pernah mati. Ia hanya menunggu panggilan — sekadar undangan WA sederhana, yang dibalas dengan hati yang masih sama seperti tiga puluh tahun silam. Dan Yeyet, di perjalanan pulang, tersenyum sepanjang jalan. Ia sudah tidak sabar menulis pesan di grup WA malam nanti. Bukan lagi untuk mengatur komunikasi. Tapi untuk berkata: "Terima kasih semua. Aku bahagia hari ini. Sampai jumpa di reuni berikutnya, ya. Dan tolong... jemput aku lagi."