prof abu1

ANALISIS PERTUMBUHAN DIAMETER SETINGGI DADA (DBH) TEAGKAN JATI (Tectona grandis L.f.) BERDASARKAN KELAS UMUR DAN PERBANDINGANNYA DENGAN STUDI JARAK TANAM DI KECAMATAN BATAUGA

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan diameter setinggi dada (DBH) tegakan jati (Tectona grandis L.f.) pada tiga kelas umur (1–10 tahun, 11–20 tahun, dan 21–30 tahun), termasuk analisis standar deviasi secara detail, serta membandingkan hasil kelas umur muda (1–10 tahun) dengan data penelitian jarak tanam di Kecamatan Batauga. Data DBH dianalisis secara deskriptif (rata-rata, standar deviasi, ragam, galat baku, median, kuartil, IQR, minimum–maksimum, dan koefisien variasi) serta diuji menggunakan ANOVA, uji t tidak berpasangan, uji Levene, dan uji Bartlett. Hasil menunjukkan rata-rata DBH pada kelas umur 1–10 tahun sebesar 15,51 cm (n = 53; SD = 5,23; CV = 33,7%), kelas 11–20 tahun 33,94 cm (n = 48; SD = 4,18; CV = 12,3%), dan kelas 21–30 tahun 41,53 cm (n = 45; SD = 5,10; CV = 12,3%). ANOVA menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antar kelas umur (F = 376,48; p < 0,001). Uji homogenitas ragam (Levene W = 0,457; p = 0,634; Bartlett p = 0,260) menunjukkan ragam antar kelas umur homogen. Data kelas umur 1–10 tahun sebanding dengan temuan di Batauga (rata-rata DBH 16,63 cm pada jarak tanam 3 × 3 m dan 17,75 cm pada 2,5 × 2,5 m; p = 0,155 antar jarak tanam). Pertumbuhan diameter meningkat seiring umur, dengan keragaman absolut (SD) relatif stabil, namun keragaman relatif (CV) jauh lebih tinggi pada fase muda.

Kata kunci: jati, DBH, kelas umur, standar deviasi, pertumbuhan diameter, jarak tanam, Batauga

1. Pendahuluan

Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu jenis kayu berkualitas tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena nilai ekonomis, ketahanan terhadap rayap, dan kekuatan mekanisnya. Keberhasilan pengelolaan tegakan jati sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap dinamika pertumbuhan, khususnya diameter setinggi dada (diameter at breast height/DBH) yang menjadi indikator utama produktivitas dan kualitas tegakan.

Pertumbuhan diameter jati dipengaruhi oleh berbagai faktor silvikultur, di antaranya umur tegakan dan jarak tanam. Umur menentukan fase pertumbuhan (muda, pertengahan, atau tua), sedangkan jarak tanam memengaruhi intensitas kompetisi antar pohon dalam memperoleh cahaya, air, dan unsur hara. Pada fase muda, kompetisi seringkali belum terlalu kuat sehingga perbedaan jarak tanam yang relatif kecil belum selalu menghasilkan perbedaan diameter yang signifikan. Selain nilai rata-rata, standar deviasi (SD) dan koefisien variasi (CV) penting untuk menilai keragaman individu pohon yang berpengaruh pada keseragaman produk kayu di masa panen.

Penelitian sebelumnya di Kecamatan Batauga (April–Mei 2022) pada tegakan jati berumur 9 tahun membandingkan jarak tanam 3 × 3 m dan 2,5 × 2,5 m. Hasil menunjukkan rata-rata DBH masing-masing 16,63 cm dan 17,75 cm, tanpa perbedaan signifikan (t = −1,434; p = 0,155). Koefisien variasi kedua petak relatif sama (sekitar 22%). Temuan tersebut memberikan acuan untuk membandingkan data kelas umur 1–10 tahun dari dataset lain.

Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan karakteristik DBH tegakan jati pada tiga kelas umur (1–10, 11–20, dan 21–30 tahun) termasuk analisis standar deviasi secara detail; (2) menganalisis perbedaan pertumbuhan diameter dan homogenitas ragam antar kelas umur; dan (3) membandingkan data kelas umur muda (1–10 tahun) dengan hasil penelitian jarak tanam di Kecamatan Batauga.

2. Metode Penelitian

2.1 Data dan Sumber

Data primer berupa pengukuran DBH (cm) tegakan jati yang dikelompokkan ke dalam tiga kelas umur: 1–10 tahun (n = 53), 11–20 tahun (n = 48), dan 21–30 tahun (n = 45). Data sekunder pembanding diambil dari penelitian pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan diameter tegakan jati di Kecamatan Batauga pada tanaman berumur 9 tahun (petak 20 × 20 m; jarak tanam 3 × 3 m dan 2,5 × 2,5 m).

2.2 Analisis Data

Analisis deskriptif meliputi rata-rata, standar deviasi (SD), ragam (variance), galat baku rata-rata (SE), median, kuartil (Q1 dan Q3), rentang interkuartil (IQR), nilai minimum–maksimum, dan koefisien variasi (CV). Interval kepercayaan 95% untuk rata-rata dihitung berdasarkan distribusi t. Perbedaan antar kelas umur diuji dengan analisis ragam satu arah (one-way ANOVA) dilanjutkan uji t tidak berpasangan (independent samples t-test) pada taraf nyata 5%. Homogenitas ragam diuji dengan uji Levene dan uji Bartlett. Perbandingan dengan data Batauga dilakukan secara deskriptif terhadap rata-rata DBH, SD, CV, dan hasil uji t antar jarak tanam.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Karakteristik DBH Berdasarkan Kelas Umur

Statistik deskriptif DBH pada ketiga kelas umur disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Statistik deskriptif DBH tegakan jati berdasarkan kelas umur

Parameter

1–10 tahun

11–20 tahun

21–30 tahun

Jumlah pohon (n)

53

48

45

Rata-rata DBH (cm)

15,51

33,94

41,53

Standar deviasi (cm)

5,23

4,18

5,10

Median (cm)

16,98

34,00

41,00

Minimum–Maksimum (cm)

5,00 – 26,85

24,50 – 42,00

30,00 – 52,00

Koefisien variasi (%)

33,7

12,3

12,3

Rata-rata DBH meningkat secara konsisten seiring bertambahnya umur tegakan. Kelas umur 1–10 tahun memiliki rata-rata terendah (15,51 cm) dengan keragaman relatif tertinggi (CV = 33,7%). Keragaman yang tinggi pada fase muda dapat disebabkan oleh variasi individu pohon, kondisi mikro-site, serta perbedaan respons terhadap kompetisi awal. Pada kelas umur 11–20 dan 21–30 tahun, CV menurun dan stabil di sekitar 12,3%, menandakan pertumbuhan yang lebih seragam setelah fase kompetisi awal terlewati.

3.2 Analisis Standar Deviasi Secara Detail

Standar deviasi (SD) mengukur sebaran absolut data di sekitar rata-rata. Analisis lebih mendalam terhadap ragam, galat baku, interval kepercayaan, serta uji homogenitas ragam disajikan pada Tabel 2 dan pembahasan berikut.

Tabel 2. Analisis detail standar deviasi, ragam, dan sebaran DBH per kelas umur

Parameter

1–10 tahun

11–20 tahun

21–30 tahun

Ragam / Variance (s²)

27,35

17,49

25,96

Standar deviasi (SD)

5,23

4,18

5,10

Galat baku rata-rata (SE)

0,72

0,60

0,76

IK 95% rata-rata (cm)

14,07 – 16,95

32,72 – 35,15

40,00 – 43,06

Q1 (kuartil bawah)

13,25

31,75

39,00

Q3 (kuartil atas)

18,65

36,50

44,00

IQR (Q3 − Q1)

5,40

4,75

5,00

Rentang (max − min)

21,85

17,50

22,00

CV (%)

33,7

12,3

12,3

3.2.1 Interpretasi Standar Deviasi dan Ragam

Nilai SD pada ketiga kelas umur relatif mendekati (4,18–5,23 cm). Kelas 11–20 tahun memiliki SD terkecil (4,18 cm) dan ragam terendah (17,49), sedangkan kelas 1–10 tahun memiliki SD tertinggi (5,23 cm) dan ragam 27,35. Meskipun ragam kelas 1–10 dan 21–30 tahun lebih tinggi, perbedaan absolut SD antar kelas tidak terlalu besar (±1 cm). Hal ini menunjukkan bahwa sebaran absolut diameter pohon di sekitar rata-ratanya relatif stabil sepanjang umur 1–30 tahun.

Sebaliknya, koefisien variasi (CV) yang merupakan ukuran keragaman relatif (SD/mean × 100%) berbeda tajam: 33,7% pada kelas muda versus 12,3% pada dua kelas lebih tua. Artinya, pada fase muda, sebaran diameter relatif terhadap ukurannya jauh lebih besar. Pohon-pohon kecil (DBH 5 cm) dan pohon yang sudah mencapai 26,85 cm hidup berdampingan dalam kelas umur yang sama, mencerminkan heterogenitas pertumbuhan awal yang tinggi.

3.2.2 Galat Baku dan Interval Kepercayaan

Galat baku rata-rata (SE = SD/√n) berkisar 0,60–0,76 cm. Interval kepercayaan 95% untuk rata-rata DBH tidak saling tumpang-tindih antar kelas umur (1–10: 14,07–16,95 cm; 11–20: 32,72–35,15 cm; 21–30: 40,00–43,06 cm). Ketidaktumpangtindihan IK 95% ini memperkuat hasil ANOVA bahwa perbedaan rata-rata antar kelas umur sangat nyata secara statistik maupun praktis.

3.2.3 Kuartil, IQR, dan Rentang

Rentang interkuartil (IQR) yang mengukur sebaran 50% data tengah relatif stabil (4,75–5,40 cm) di ketiga kelas umur. Rentang absolut (max − min) tertinggi pada kelas 21–30 tahun (22,00 cm) dan kelas 1–10 tahun (21,85 cm), sedangkan kelas 11–20 tahun memiliki rentang tersempit (17,50 cm). Pola IQR yang mirip mendukung temuan bahwa sebaran absolut diameter relatif konstan, sementara pergeseran lokasi sebaran (median dan mean) mengikuti peningkatan umur.

3.2.4 Uji Homogenitas Ragam

Hasil uji homogenitas ragam disajikan sebagai berikut:

• Uji Levene (ketiga kelas): W = 0,457; p = 0,634

• Uji Bartlett (ketiga kelas): T = 2,692; p = 0,260

• Levene 1–10 vs 11–20: p = 0,443; 11–20 vs 21–30: p = 0,329; 1–10 vs 21–30: p = 0,898

• Uji F rasio ragam: semua pasangan p > 0,12 (tidak signifikan)

Kedua uji (Levene dan Bartlett) serta uji F berpasangan menunjukkan bahwa ragam DBH antar kelas umur homogen (p > 0,05). Asumsi homogenitas ragam untuk ANOVA terpenuhi. Meskipun CV berbeda besar, ragam absolut tidak berbeda signifikan. Ini penting secara praktis: keragaman absolut ukuran pohon di dalam tegakan cenderung stabil, sementara keragaman relatif menurun seiring pohon membesar karena mean yang meningkat lebih cepat daripada SD.

3.3 Perbedaan Statistik Antar Kelas Umur

Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antar ketiga kelas umur (F = 376,48; p < 0,001). Uji t tidak berpasangan antar pasangan kelas umur juga menghasilkan perbedaan signifikan (semua p < 0,001):

• 1–10 vs 11–20 tahun: t = −19,64; p < 0,001

• 11–20 vs 21–30 tahun: t = −7,83; p < 0,001

• 1–10 vs 21–30 tahun: t = −24,89; p < 0,001

Peningkatan diameter yang signifikan dari kelas umur muda ke menengah dan tua mencerminkan pola pertumbuhan jati yang masih aktif pada rentang umur 1–30 tahun. Laju peningkatan rata-rata dari kelas 1–10 ke 11–20 tahun lebih besar dibandingkan dari 11–20 ke 21–30 tahun, menunjukkan bahwa fase pertumbuhan diameter tercepat terjadi pada periode muda hingga pertengahan. Karena ragam homogen, perbedaan mean tersebut benar-benar mencerminkan pergeseran lokasi distribusi, bukan artefak dari perbedaan sebaran.

3.4 Perbandingan dengan Penelitian Jarak Tanam di Batauga

Data kelas umur 1–10 tahun (rata-rata DBH 15,51 cm; n = 53; SD = 5,23; CV = 33,7%) dapat dibandingkan dengan hasil penelitian di Kecamatan Batauga pada tegakan berumur 9 tahun (Tabel 3).

Tabel 3. Perbandingan DBH kelas umur 1–10 tahun dengan data Batauga (umur 9 tahun)

Parameter

Data ini (1–10 th)

Batauga 3 × 3 m

Batauga 2,5 × 2,5 m

Jumlah pohon (n)

53

48

50

Rata-rata DBH (cm)

15,51

16,63

17,75

SD DBH (cm)

5,23

3,79

3,93

Koefisien variasi (%)

33,7

22,8

22,2

Uji perbedaan

t = −1,434

p = 0,155

Rata-rata DBH data kelas umur 1–10 tahun (15,51 cm) berada sedikit di bawah nilai Batauga (16,63–17,75 cm), namun masih dalam kisaran yang wajar untuk tegakan jati umur sekitar 9–10 tahun. SD data ini (5,23 cm) lebih tinggi dibandingkan Batauga (3,79–3,93 cm), sejalan dengan CV yang juga lebih tinggi (33,7% vs ±22%). Perbedaan ini dapat disebabkan oleh: (1) data mencakup rentang umur 1–10 tahun (bukan hanya umur tunggal 9 tahun), sehingga mencakup pohon yang lebih muda dan lebih tua dalam kelas yang sama; (2) variasi kondisi lingkungan atau genotipe antar lokasi; dan (3) kemungkinan perbedaan praktik silvikultur. Di Batauga, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara jarak tanam 3 × 3 m dan 2,5 × 2,5 m (p = 0,155), sejalan dengan gagasan bahwa pada fase muda perbedaan jarak tanam yang tidak terlalu besar (0,5 m) belum menimbulkan kompetisi yang cukup kuat untuk membedakan pertumbuhan diameter secara nyata.

Pola umum menunjukkan bahwa pada umur muda, rata-rata DBH jati cenderung berada di kisaran 15–18 cm. Keragaman absolut (SD ≈ 4–5 cm) relatif konsisten, sementara keragaman relatif (CV) lebih tinggi ketika mean masih kecil. Temuan homogenitas ragam antar kelas umur dalam dataset ini memperkuat bahwa peningkatan diameter seiring umur terutama berupa pergeseran mean, bukan perubahan lebar sebaran.

4. Kesimpulan

1. Rata-rata DBH tegakan jati meningkat signifikan seiring umur: 15,51 cm (1–10 tahun), 33,94 cm (11–20 tahun), dan 41,53 cm (21–30 tahun). Keragaman relatif tertinggi pada fase muda (CV = 33,7%) dan menurun serta stabil pada kelas umur lebih tua (CV ≈ 12,3%).

2. Standar deviasi absolut relatif stabil (4,18–5,23 cm) di ketiga kelas umur. Ragam homogen (Levene p = 0,634; Bartlett p = 0,260). IQR juga mirip (4,75–5,40 cm). Dengan demikian, peningkatan diameter seiring umur terutama berupa pergeseran lokasi distribusi (mean/median), bukan pelebaran sebaran.

3. ANOVA dan uji t menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antar seluruh pasangan kelas umur (p < 0,001). Interval kepercayaan 95% rata-rata tidak saling tumpang-tindih, menegaskan bahwa umur tegakan merupakan faktor determinan utama pertumbuhan diameter pada rentang 1–30 tahun.

4. Data kelas umur 1–10 tahun sebanding dengan temuan di Kecamatan Batauga (umur 9 tahun; DBH 16,63–17,75 cm). Tidak adanya perbedaan signifikan antar jarak tanam di Batauga memperkuat bahwa pada fase muda, perbedaan jarak tanam yang relatif kecil belum selalu berpengaruh nyata terhadap diameter.

Penelitian lanjutan disarankan mencakup pengukuran diameter increment, tinggi pohon, dan volume tegakan secara periodik, serta mempertimbangkan interaksi umur × jarak tanam pada lokasi yang sama untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai dinamika keragaman (SD dan CV) seiring waktu.

Daftar Pustaka

Pandey, D., & Brown, C. (2000). Teak: a global overview. Unasylva, 51(201), 3–13.

Sumardi, & Wahyudi, I. (2018). Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan jati. Jurnal Ilmu Kehutanan, 12(2), 145–156.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2020). Pedoman Budidaya Jati. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari.

Tewari, D. N. (1992). A Monograph on Teak (Tectona grandis Linn. f.). Dehra Dun: International Book Distributors.

Penelitian pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan diameter tegakan jati (Tectona grandis L.f.) di Kecamatan Batauga. (2022). Data pengukuran keliling dan DBH pada dua jarak tanam (3 × 3 m dan 2,5 × 2,5 m), umur 9 tahun.