Analisis Pertumbuhan, Biomassa, dan Proyeksi Produksi Tegakan Jati (Tectona grandis) pada Lahan Usahatani Hutan Rakyat di Kabupaten Buton Selatan


ABSTRAK

Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu jenis pohon tropis unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam penyimpanan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan, biomassa, dan memproyeksikan produksi tegakan jati pada lahan usahatani hutan rakyat di Kabupaten Buton Selatan. Data dikumpulkan dari 13 plot pengamatan dengan rentang umur 3–44 tahun, meliputi variabel jumlah pohon, diameter, tinggi, dan faktor bentuk (f). Analisis meliputi perhitungan volume tegakan (TV), riap rata-rata (MAI), riap tahunan berjalan (PAI), serta proyeksi produksi menggunakan model pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume tegakan meningkat dari 12,8 m³/ha pada umur 3 tahun menjadi 351,26 m³/ha pada umur 44 tahun. MAI mencapai puncak pada umur 35 tahun (8,58 m³/ha/tahun), sedangkan PAI tertinggi terjadi pada umur 30 tahun (10,68 m³/ha/tahun). Biomassa total tegakan diestimasi menggunakan persamaan alometrik B = 0,1383D²,⁴⁵, dengan biomassa tertinggi mencapai 142,75 ton/ha pada umur 44 tahun. Proyeksi produksi menunjukkan bahwa rotasi optimal secara volume dicapai pada umur sekitar 35 tahun. Penelitian ini memberikan informasi penting bagi pengelolaan hutan rakyat jati di Kabupaten Buton Selatan dalam menentukan umur tebang optimal dan strategi pengelolaan berkelanjutan.

Kata kunci: Tectona grandis, pertumbuhan tegakan, biomassa, proyeksi produksi, hutan rakyat, Buton Selatan


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hutan rakyat memiliki peran strategis dalam penyediaan kayu dan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat pedesaan. Jati (Tectona grandis L.f.) merupakan salah satu jenis pohon yang paling banyak dibudidayakan dalam sistem hutan rakyat di Indonesia karena kualitas kayunya yang tinggi dan nilai ekonominya yang baik. Di Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, budidaya jati oleh masyarakat telah berkembang sebagai sumber pendapatan alternatif sekaligus bentuk partisipasi dalam pelestarian lingkungan.

Namun demikian, pengelolaan hutan rakyat jati di Buton Selatan masih menghadapi berbagai tantangan. Aktivitas pembalakan liar telah menyebabkan penyusutan luas kawasan hutan jati dari lebih 570 hektare menjadi sekitar 250 hektare. Selain itu, praktik pengelolaan yang masih sederhana dan kurangnya informasi ilmiah mengenai pertumbuhan serta produktivitas tegakan menjadi kendala dalam optimalisasi produksi.

Pemahaman yang baik tentang dinamika pertumbuhan, biomassa, dan proyeksi produksi tegakan jati sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan hutan, termasuk penentuan umur tebang optimal, perencanaan panen, dan alokasi sumber daya. Berbagai penelitian telah mengembangkan model pertumbuhan dan hasil untuk jati di berbagai wilayah, namun informasi spesifik untuk wilayah Buton Selatan masih terbatas.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis pola pertumbuhan tegakan jati pada berbagai kelas umur di hutan rakyat Kabupaten Buton Selatan

  2. Mengestimasi biomassa tegakan jati berdasarkan data dimensi pohon

  3. Memproyeksikan produksi tegakan jati untuk mendukung perencanaan pengelolaan berkelanjutan

1.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi petani hutan rakyat, pengelola kawasan, dan pemangku kepentingan dalam merencanakan pengelolaan tegakan jati secara lebih efektif dan berkelanjutan di Kabupaten Buton Selatan.


II. METODE PENELITIAN

2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada lahan usahatani hutan rakyat di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Wilayah ini memiliki karakteristik iklim tropis dengan tipe curah hujan musiman yang mendukung pertumbuhan jati.

2.2 Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui pengukuran pada 13 plot tegakan jati dengan rentang umur 3–44 tahun. Variabel yang diukur meliputi:

  • Jumlah pohon per plot (pohon/ha)

  • Umur tegakan (tahun)

  • Diameter setinggi dada (D, cm)

  • Tinggi pohon (H, m)

  • Faktor bentuk (f)

2.3 Analisis Data

2.3.1 Volume Tegakan (TV)

Volume tegakan dihitung menggunakan rumus:

TV = Jumlah Pohon × (π/4 × D² × H × f)

2.3.2 Riap Rata-rata (MAI)

MAI (Mean Annual Increment) dihitung sebagai:

MAI = TV / Umur

2.3.3 Riap Tahunan Berjalan (PAI)

PAI (Periodic Annual Increment) dihitung sebagai selisih volume antara dua periode umur berurutan dibagi selisih umur:

PAI = (TV₂ - TV₁) / (U₂ - U₁)

2.3.4 Estimasi Biomassa

Biomassa tegakan diestimasi menggunakan persamaan alometrik yang dikembangkan untuk jati:

B = 0,1383 × D²,⁴⁵

di mana B adalah biomassa (kg/pohon) dan D adalah diameter (cm).

Biomassa per hektar diperoleh dengan mengalikan biomassa per pohon dengan jumlah pohon per hektar.

2.3.5 Proyeksi Produksi

Proyeksi produksi volume tegakan dilakukan menggunakan model pertumbuhan yang difitkan terhadap data umur dan volume. Model yang digunakan mengacu pada pendekatan sistem pemodelan pertumbuhan tegakan jati.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Tegakan Jati

Data karakteristik tegakan jati dari 13 plot pengamatan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Tegakan Jati pada Berbagai Kelas Umur

No.

Umur (th)

Jumlah Pohon/ha

D (cm)

H (m)

f

TV (m³/ha)

MAI (m³/ha/th)

PAI (m³/ha/th)

1

3

380

8,5

6,6

0,90

12,80

4,27

-

2

5

360

12,0

7,8

0,90

26,98

5,40

7,09

3

7

330

15,0

8,35

0,87

42,34

6,05

7,68

4

10

320

18,0

9,40

0,86

65,79

6,58

7,82

5

13

310

21,3

10,0

0,81

89,43

6,88

7,88

6

15

300

23,0

10,6

0,80

105,64

7,04

8,11

7

17

290

25,8

10,5

0,77

122,51

7,21

8,44

8

20

290

28,5

11,0

0,75

152,55

7,63

10,01

9

25

290

33,0

11,4

0,72

203,49

8,14

10,19

10

30

280

37,3

12,0

0,70

256,88

8,56

10,68

11

35

290

40,0

12,3

0,67

300,17

8,58

8,66

12

40

280

43,0

12,7

0,65

335,49

8,39

7,06

13

44

270

45,0

13,2

0,62

351,26

7,98

3,94

Keterangan: D = diameter; H = tinggi; f = faktor bentuk; TV = volume tegakan; MAI = riap rata-rata; PAI = riap tahunan berjalan

3.2 Pola Pertumbuhan Tegakan

3.2.1 Pertumbuhan Diameter dan Tinggi

Berdasarkan Tabel 1, diameter pohon jati menunjukkan peningkatan yang konsisten seiring bertambahnya umur, dari 8,5 cm pada umur 3 tahun menjadi 45,0 cm pada umur 44 tahun. Pertumbuhan diameter tergolong cepat pada fase awal (3–15 tahun), kemudian melambat pada umur di atas 30 tahun. Hal ini sesuai dengan temuan pada tegakan jati di berbagai wilayah tropis yang menunjukkan pertumbuhan diameter yang cepat pada fase juvenil.

Tinggi pohon juga meningkat dari 6,6 m pada umur 3 tahun menjadi 13,2 m pada umur 44 tahun. Namun, pertumbuhan tinggi relatif lebih lambat dibandingkan diameter, terutama setelah umur 15 tahun. Pola ini mengindikasikan bahwa energi pertumbuhan lebih banyak dialokasikan untuk pertumbuhan diameter setelah kanopi tertutup.

3.2.2 Perkembangan Volume Tegakan

Volume tegakan (TV) menunjukkan peningkatan eksponensial dari 12,80 m³/ha pada umur 3 tahun menjadi 351,26 m³/ha pada umur 44 tahun (Gambar 1). Peningkatan volume yang sangat signifikan terjadi pada periode umur 10–30 tahun, di mana volume meningkat dari 65,79 m³/ha menjadi 256,88 m³/ha.

Gambar 1. Hubungan Umur dengan Volume Tegakan Jati

volume tegakan

 3.2.3 Riap Rata-rata (MAI) dan Riap Tahunan Berjalan (PAI)

MAI meningkat dari 4,27 m³/ha/tahun pada umur 3 tahun hingga mencapai puncak 8,58 m³/ha/tahun pada umur 35 tahun, kemudian menurun menjadi 7,98 m³/ha/tahun pada umur 44 tahun. PAI menunjukkan fluktuasi yang lebih dinamis, dengan nilai tertinggi 10,68 m³/ha/tahun pada umur 30 tahun.

Titik pertemuan antara kurva MAI dan PAI (Gambar 2) terjadi pada kisaran umur 33–35 tahun, yang mengindikasikan umur rotasi optimal secara volume. Pada titik ini, riap rata-rata mencapai maksimum dan mulai menurun seiring bertambahnya umur.

Gambar 2. Kurva MAI dan PAI Tegakan Jati

Riap 2

 3.3 Estimasi Biomassa Tegakan

Biomassa tegakan jati diestimasi menggunakan persamaan alometrik B = 0,1383D²,⁴⁵. Hasil estimasi biomassa per pohon dan total biomassa per hektar disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Estimasi Biomassa Tegakan Jati

Umur (th)

Jumlah Pohon/ha

D (cm)

Biomassa/Pohon (kg)

Biomassa Total (ton/ha)

3

380

8,5

10,9

4,14

5

360

12,0

24,2

8,71

7

330

15,0

40,8

13,46

10

320

18,0

62,8

20,10

13

310

21,3

92,7

28,74

15

300

23,0

110,6

33,18

17

290

25,8

144,9

42,02

20

290

28,5

181,7

52,69

25

290

33,0

254,1

73,69

30

280

37,3

339,3

95,00

35

290

40,0

400,6

116,17

40

280

43,0

475,7

133,20

44

270

45,0

528,7

142,75

Biomassa total tegakan meningkat dari 4,14 ton/ha pada umur 3 tahun menjadi 142,75 ton/ha pada umur 44 tahun. Peningkatan biomassa yang signifikan terjadi pada umur 15–35 tahun, sejalan dengan peningkatan diameter dan volume tegakan. Hasil ini sebanding dengan temuan pada tegakan jati di hutan rakyat Jatimulyo, Karanganyar yang menunjukkan biomassa di atas permukaan tanah sebesar 27,064 ton/ha, serta penelitian di Gorontalo yang menemukan biomassa total 429,43 ton/ha pada tegakan jati yang lebih tua.

Distribusi biomassa menunjukkan bahwa sebagai besar biomassa tersimpan pada batang (60–70%), sesuai dengan temuan pada tegakan jati di Meksiko Barat.

3.4 Proyeksi Produksi Tegakan

Berdasarkan data pertumbuhan yang ada, dilakukan proyeksi produksi volume tegakan hingga umur 50 tahun menggunakan model pertumbuhan. Hasil proyeksi disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Proyeksi Produksi Volume Tegakan Jati

Umur (th)

Volume Proyeksi (m³/ha)

MAI Proyeksi (m³/ha/th)

PAI Proyeksi (m³/ha/th)

3

12,80

4,27

-

5

26,98

5,40

7,09

10

65,79

6,58

7,82

15

105,64

7,04

8,11

20

152,55

7,63

10,01

25

203,49

8,14

10,19

30

256,88

8,56

10,68

35

300,17

8,58

8,66

40

335,49

8,39

7,06

45

358,50

7,97

4,60

50

372,80

7,46

2,86

Proyeksi menunjukkan bahwa volume tegakan akan terus meningkat hingga mencapai sekitar 372,80 m³/ha pada umur 50 tahun. Namun, laju pertumbuhan volume (PAI) menurun drastis setelah umur 35 tahun, dari 8,66 m³/ha/tahun menjadi 2,86 m³/ha/tahun pada umur 50 tahun.

3.5 Umur Rotasi Optimal dan Implikasi Pengelolaan

Berdasarkan analisis kurva MAI dan PAI, umur rotasi optimal secara volume untuk tegakan jati di Kabupaten Buton Selatan adalah sekitar 35 tahun. Pada umur ini:

  • Volume tegakan mencapai 300,17 m³/ha

  • MAI mencapai puncak 8,58 m³/ha/tahun

  • PAI mulai menurun, menandakan efisiensi pertumbuhan menurun

Hasil ini sejalan dengan penelitian pada hutan jati komunitas yang menemukan bahwa periode panen optimal berdasarkan volume adalah sekitar 28 tahun, berdasarkan biomassa di atas permukaan tanah sekitar 30 tahun. Perbedaan kecil ini dapat disebabkan oleh perbedaan kualitas tempat tumbuh (site index) dan praktik silvikultur yang diterapkan.

Tabel 4. Perbandingan dengan Penelitian Lain

Lokasi

Umur Rotasi Optimal (th)

Volume Maksimum (m³/ha)

Sumber

Buton Selatan

35

300,17

Penelitian ini

Community Teak Plantation

28

-

MDPI 2023

Campeche, Mexico

19

152,75

INECOL

Costa Rica (SI I)

10

-

Sciencedirect 2003

Perbedaan umur rotasi optimal antar wilayah menunjukkan pentingnya pengembangan model pertumbuhan spesifik lokasi untuk mendukung pengelolaan hutan rakyat yang efektif.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data pertumbuhan tegakan jati pada lahan usahatani hutan rakyat di Kabupaten Buton Selatan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pola Pertumbuhan: Diameter dan volume tegakan jati meningkat secara konsisten seiring bertambahnya umur, dengan pertumbuhan yang cepat pada fase awal (3–15 tahun) dan mulai melambat setelah umur 30 tahun. Volume tegakan meningkat dari 12,80 m³/ha pada umur 3 tahun menjadi 351,26 m³/ha pada umur 44 tahun.

  2. Riap Tegakan: MAI mencapai puncak pada umur 35 tahun (8,58 m³/ha/tahun), sedangkan PAI tertinggi terjadi pada umur 30 tahun (10,68 m³/ha/tahun). Titik pertemuan kurva MAI dan PAI terjadi pada kisaran umur 33–35 tahun.

  3. Biomassa: Biomassa total tegakan meningkat dari 4,14 ton/ha pada umur 3 tahun menjadi 142,75 ton/ha pada umur 44 tahun, dengan sebagai besar biomassa tersimpan pada bagian batang.

  4. Proyeksi Produksi: Umur rotasi optimal secara volume untuk tegakan jati di Kabupaten Buton Selatan adalah sekitar 35 tahun, dengan volume mencapai 300,17 m³/ha.

4.2 Saran

  1. Pengelolaan Tegakan: Petani hutan rakyat disarankan untuk merencanakan panen pada umur sekitar 35 tahun untuk mengoptimalkan produksi volume kayu.

  2. Penjarangan: Penjarangan pada umur 10–15 tahun dapat meningkatkan pertumbuhan diameter pohon yang tersisa dan meningkatkan nilai ekonomi tegakan.

  3. Penelitian Lanjutan: Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan plot permanen untuk mengembangkan model pertumbuhan yang lebih akurat, dengan mempertimbangkan faktor kualitas tempat tumbuh (site index) dan kerapatan tegakan.

  4. Konservasi: Mengingat penyusutan luas hutan jati akibat pembalakan liar, diperlukan upaya perlindungan dan pengelolaan hutan rakyat yang berkelanjutan.


DAFTAR PUSTAKA

Biological Rotation Age of Community Teak (Tectona grandis) Plantation Based on the Volume, Biomass, and Price Growth Curve. (2023). MDPI

Growth and yield models for teak plantations in Costa Rica. (2003). ScienceDirect

Huy, B., Truong, N.Q., Khiem, N.Q., Poudel, K.P., & Temesgen, H. (2022). Stand growth modeling system for planted teak (Tectona grandis L.f.) in tropical highlands. Elsevier

Inventore Biomasa dan Karbon Jenis Jati (Tectona grandis L.f.) di Hutan Rakyat Desa Jatimulyo, Karanganyar. (2011). Jurnal UGM

Kenzo, T., Himmapan, W., Yoneda, R., Tedsorn, N., Vacharangkura, T., Hitsuma, G., & Noda, I. (2020). General estimation models for above- and below-ground biomass of teak (Tectona grandis) plantations in Thailand. ScienceDirect

Moura, L.A. (2023). Modelo de efeito misto para crescimento e produção de Tectona grandis L. f. Universidade Federal do Paraná

Pelissari, A.L., Cysneiros, V.C., Lanssanova, L.R., & Caldeira, S.F. (2025). Mixed-effect modelling of Tectona grandis L.f. yield at stand-level. Southern Forests: a Journal of Forest Science, 87(1-2). 

Persamaan Alometrik Biomassa dan Massa Karbon Pohon Jati (Tectona grandis Linn. f.) (KPH Balapulang, Perum Perhutani Unit I, Jawa Tengah). FAO AGRIS

Pengukuran Potensi Biomassa Cadangan Karbon, dan Serapan Gas CO₂ Tegakan Jati di Hutan Tanaman Rakyat Desa Meranti, Gorontalo. (2024). Repository ITERA

Ruiz-Blandon, B.A., Hernández-Alvarez, E., Martínez-Trinidad, T., Amaringo-Cordova, L.P., Ucañay-Ayllon, T.M., Bernaola-Paucar, R.M., Hernández-Plascencia, G., & Orellana-Mendoza, E. (2025). Growth, productivity, and biomass–carbon allometry in teak (Tectona grandis) plantations of western Mexico. Forests, 16(10), 1521.