Abstrak

Kegiatan pembersihan rumput dan dedaunan di bawah pohon jambu di Kecamatan Batauga dilakukan untuk mempermudah pengumpulan buah yang jatuh ke tanah. Buah yang terkumpul kemudian dijual langsung kepada pengumpul di Pasar Wameo atau pengumpul setempat. Penelitian ini menganalisis dampak ekonomi kegiatan tersebut terhadap hasil produksi per hektar. Dengan asumsi produksi potensial 15 ton/ha, pembersihan meningkatkan persentase buah yang berhasil dikumpulkan dari 85% menjadi 95%. Hasilnya, pendapatan meningkat dari Rp63.750.000/ha menjadi Rp71.250.000/ha. Setelah dikurangi biaya pembersihan sebesar Rp1.500.000/ha, keuntungan tambahan bersih mencapai sekitar Rp6.000.000/ha. Meskipun pembakaran mempercepat pembersihan, praktik ini berisiko menurunkan kesuburan tanah dan menimbulkan bahaya kebakaran. Oleh karena itu, metode pembersihan mekanis atau pemanfaatan seresah sebagai mulsa/kompos lebih dianjurkan untuk keberlanjutan jangka panjang.

Kata Kunci: pembersihan lahan, pohon jambu, hasil ekonomi, produksi per hektar, Kecamatan Batauga

1. Pendahuluan

Pohon jambu (Psidium guajava) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi di Kecamatan Batauga. Buah yang matang sering jatuh ke tanah dan mudah hilang jika tertutup rumput atau dedaunan. Oleh karena itu, petani melakukan pembersihan lahan di bawah pohon untuk memudahkan pengumpulan buah.

Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan membersihkan rumput dan dedaunan, bahkan kadang disertai pembakaran. Meskipun bertujuan praktis, metode pembakaran perlu dikaji dari sisi dampak lingkungan dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis manfaat ekonomi pembersihan lahan terhadap hasil produksi yang dapat dijual per hektar, serta memberikan pertimbangan mengenai metode yang lebih berkelanjutan.

2. Metode Analisis

Analisis dilakukan secara deskriptif-kuantitatif berdasarkan data asumsi produksi dan harga jual di tingkat petani. Parameter yang digunakan meliputi:

Produksi potensial: 15 ton/ha

Persentase buah yang berhasil dikumpulkan: 85% (sebelum pembersihan) dan 95% (setelah pembersihan)

Harga jual kepada pengumpul: Rp5.000/kg

Biaya pembersihan: Rp1.500.000/ha

Perhitungan dilakukan dengan membandingkan volume dan nilai buah yang dapat dipasarkan sebelum dan sesudah pembersihan, kemudian mengurangi biaya pembersihan untuk memperoleh keuntungan tambahan bersih.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Dampak terhadap Volume Produksi yang Dapat Dijual

Komponen

Sebelum Pembersihan

Setelah Pembersihan

Produksi potensial

15 ton/ha

15 ton/ha

Buah yang berhasil dikumpulkan

85%

95%

Produksi yang dapat dijual

12,75 ton

14,25 ton

Pembersihan lahan meningkatkan efisiensi pengumpulan buah sebesar 10%. Hal ini mengurangi kehilangan hasil akibat buah yang tertutup vegetasi atau sulit ditemukan.

3.2 Analisis Pendapatan

Pendapatan sebelum pembersihan:

12.750 kg × Rp5.000 = Rp63.750.000/ha

Pendapatan setelah pembersihan:

14.250 kg × Rp5.000 = Rp71.250.000/ha

Tambahan pendapatan kotor:

Rp71.250.000 − Rp63.750.000 = Rp7.500.000/ha

Keuntungan tambahan bersih (setelah biaya pembersihan Rp1.500.000/ha):

Rp6.000.000/ha

3.3 Manfaat Ekonomi Lainnya

Selain peningkatan volume penjualan, pembersihan lahan memberikan manfaat tambahan:

Mempercepat proses panen sehingga mengurangi kebutuhan tenaga kerja.

Menjaga mutu buah karena buah ditemukan lebih cepat setelah jatuh.

Meningkatkan efisiensi usaha tani secara keseluruhan.

3.4 Catatan mengenai Metode Pembakaran

Pembakaran memang mempercepat pembersihan, namun memiliki dampak negatif:

Mengurangi kandungan bahan organik tanah.

Menurunkan aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Meningkatkan risiko kebakaran yang tidak terkendali.

Dari perspektif agronomi dan keberlanjutan, pembersihan secara mekanis atau pemanfaatan rumput dan dedaunan sebagai mulsa maupun kompos lebih dianjurkan. Praktik ini menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang sekaligus tetap memberikan manfaat ekonomi.

4. Kesimpulan

Pembersihan area di bawah pohon jambu memberikan manfaat ekonomi yang nyata. Dengan asumsi produksi 15 ton/ha dan harga jual Rp5.000/kg, peningkatan persentase buah yang berhasil dikumpulkan dari 85% menjadi 95% menghasilkan tambahan pendapatan bersih sekitar Rp6 juta per hektar setelah memperhitungkan biaya pembersihan.

Besarnya keuntungan aktual bergantung pada produktivitas kebun, harga jual, biaya tenaga kerja, dan metode pembersihan yang digunakan. Untuk menjaga keberlanjutan, disarankan menghindari pembakaran dan memilih metode yang lebih ramah lingkungan.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Kabupaten Buton Selatan. (berbagai tahun). Kabupaten Buton Selatan Dalam Angka. Baubau: BPS Kabupaten Buton Selatan.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara. (berbagai tahun). Statistik Produksi Tanaman Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari: BPS Provinsi Sulawesi Tenggara.

Soekartawi. (2002). Analisis Usahatani. Jakarta: UI Press.

Suratiyah, K. (2015). Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.

Hardjowigeno, S. (2003). Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.

Sutanto, R. (2002). Penerapan Pertanian Organik: Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Yogyakarta: Kanisius.

Direktorat Jenderal Hortikultura. (2014). Pedoman Budidaya Jambu Biji. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (berbagai tahun). Statistik Hortikultura Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura.