1000515945

Di dermaga Pulau Tomia, angin laut bertiup lembut. Dan di Posko Reuni, Ondeana, seorang ibu rumah tangga yang sudah lama menetap di kampung, berdiri gelisah. Di sampingnya, Musuwia dan kawan-kawan lain ikut menunggu. Hari itu bukan hari biasa. Mereka akan menjemput kawan-kawan kerabat alumni SMPN 1 Tomia—alumni 1982 dan angkatan 1979—yang datang dari luar daerah untuk reunian.

Ketika kapal mulai mendekat, Ondeana tak mampu lagi menahan haru. Air matanya menetes. Musuwia pun sama. Begitu kawan-kawan lama turun, mereka saling berpelukan. Ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang hanya diam sambil menggenggam erat tangan sahabat lama.

Pucuk tebu manis rasanya, Dipotong orang di pagi hari; Dulu kita selalu bersama, Kini tinggal kenangan di hati.

Seorang kawan membacakan puisi selamat datang di Posko. Suaranya bergetar. Puisi itu sederhana, tetapi setiap baitnya seperti membuka pintu masa lalu. Ondeana mengenang saat mereka masih duduk di bangku SMP. Dulu, mereka suka bermain di sekolah. Berlari di halaman, tertawa lepas, dan pulang bersama saat matahari mulai condong ke barat.

Burung camar terbang ke tepian, Ombak kecil menyapu pantai; Masa SMP penuh keceriaan, Tawa riang tak pernah usai.

Usai penjemputan, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Meja panjang ditata sederhana, tetapi suasananya hangat. Sajian makan siang bernuansa masakan lokal: kapusunosu, lapa-lapa khas Tomia yang terbuat dari sari pucuk tebu, dan aneka ikan karang yang menghiasi tatanan meja. Aroma masakan bercampur dengan cerita-cerita lama. Ada yang bercerita tentang guru galak, ada yang mengenang teman yang dulu paling nakal, dan ada pula yang hanya tersenyum mendengar nama-nama yang sudah lama tidak disebut.

Ikan karang di meja makan, Lapa-lapa manis dari pucuk tebu; Mari kawan jangan ditahan, Reuni ini obat rindu.

Malam harinya, acara berlanjut dengan mengenang kawan-kawan yang telah mendahului. Tahlilan dan lantunan yasinan bersama bergema melalui pengeras suara yang telah dipersiapkan panitia lokal. Suasana berubah hening. Nama-nama kawan dan guru guru kelas yang sudah pergi disebut dalam doa. Ondeana kembali meneteskan air mata. Musuwia menggenggam tangan teman di sampingnya. Mereka sadar, tidak semua bisa hadir dalam reuni ini. Sebagian telah berpulang, meninggalkan kenangan yang tak akan pernah hilang.

Air laut tenang di Teluk Tomia, Burung camar terbang ke tepian; Kawan yang pergi tak kembali saja, Doa kita antar ke hadapan Tuhan.

Setelah doa, suasana perlahan berubah. Gendang ditabuh bertalu-talu. Penyanyi lokal—meski belum tersohor—mulai mengalunkan lagu-lagu kampung. Joget kampung pun dimulai. Suasana pesisir terasa begitu akrab. Malam semakin larut, dingin mulai menusuk kulit, tetapi semangat untuk joget bersama justru semakin membara. Mereka menari, seolah melupakan usia yang kini telah mencapai 60 hingga 61 tahun.

Malam dingin di tepi pantai, Api unggun menghangatkan badan; Meski usia tak lagi muda, Semangat joget tetap bertahan.

Di sela tawa dan langkah joget, mereka kembali mengenang masa muda. Dulu, mereka adalah anak-anak yang tak pernah membayangkan akan bertemu lagi setelah puluhan tahun berpisah. Kini, di bawah langit Tomia, mereka kembali menjadi remaja yang ceria—meski hanya untuk beberapa malam.

Air laut tenang di Teluk Tomia, Burung camar terbang ke tepian; Mari kita jaga kenangan bersama, Sampai tua tetap berkawan.

1000515942

Bagi kawan-kawan yang belum sempat datang, Tomia masih menanti. Reuni ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah obat rindu, pengikat kenangan, dan bukti bahwa persahabatan sejati tidak pernah lekang oleh waktu.